Tentang Kelahiran
Kelahiran Mama Syaikhuna Ahmad Faqih berawal dari sebuah kisah yang unik dan sarat makna. Sekitar tahun 1907 M, ayah beliau, H. Kurdi bin H. Musa, menuntut ilmu di Pesantren Kudang, salah satu pesantren besar di wilayah Tasikmalaya.
Suatu hari, meski merasa belum menguasai ilmu secara mendalam, H. Kurdi dipanggil oleh gurunya dan diminta untuk pulang ke kampung halamannya. Tak lama setelah kembali, beliau menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Rukmini. Namun karena teringat pesan gurunya bahwa kelak ia akan dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh, H. Kurdi kemudian menceraikan istrinya dan menikah kembali dengan seorang janda beranak dua bernama Hj. Halimah, yang telah memiliki dua anak: Hj. Juariyah dan Bapak Enjum.
Setelah penantian panjang yang disertai doa tanpa henti, Allah SWT mengabulkan harapan tersebut. Lahir seorang putra laki-laki yang kelak dikenal sebagai Syaikhuna Al-Mukarram Mama Syaikhuna KH. Ahmad Faqih, pada Januari 1913 M / Shafar 1331 H, bertempat di Kampung Cilenga, Desa Leuwisari, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.
Kemudian lahir pula dua putra lainnya, yaitu KH. Jamaludin dan KH. Ahmad Romli, dengan jarak usia masing-masing sekitar satu tahun.
H. Kurdi wafat sekitar tahun 1949, setelah Indonesia merdeka. Makam beliau berada di Kampung Kubangsari, Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.
Masa Kecil
Nama kecil Mama Syaikhuna adalah Ahidin. Beliau merupakan putra pertama dari tiga bersaudara laki-laki. Sejak kecil, beliau mendapatkan perlakuan istimewa dari sang ayah.
Dalam berbagai perjalanan, H. Kurdi selalu menggendong Ahidin, sementara kedua adiknya dibiarkan berjalan sendiri. Perlakuan ini kerap mengundang keheranan masyarakat sekitar. Namun H. Kurdi tidak menghiraukannya, karena diyakini bahwa anak yang digendongnya itu kelak akan menjadi seorang ulama besar.
Masa Menuntut Ilmu
Pendidikan keilmuan Mama Syaikhuna dimulai di kampung halamannya kepada KH. Moch. Syabandi. Pada fase ini, beliau mempelajari dasar dasar ilmu agama hingga ilmu sharaf, meskipun belum sepenuhnya tuntas.
Setelah lulus Sekolah Rakyat (SR) pada usia sekitar 12 tahun, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Pesantren Sukamanah Tasikmalaya di bawah asuhan KH. Zainal Mustofa, seorang ulama pejuang yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Mama Syaikhuna menuntut ilmu di Sukamanah selama kurang lebih 12 tahun (1925–1937 M). Di antara guru-guru sorogan beliau saat itu adalah:
- KH. Rukhyat Cipasung
- KH. Faqih Damini Al-Mubarok (Cibalanarik)
Beliau juga memiliki kakak kelas sekaligus rekan seperjuangan, yaitu KH. Mahmud Zuhdi dari Sumedang.
Pada tahun 1937 M, setelah menyelesaikan pendidikannya di Sukamanah, Mama Syaikhuna memperdalam ilmu falak kepada KH. Fakhrurrozi selama sekitar satu bulan di bulan Ramadhan, bertempat di daerah Sukalaya, Gunung Sabeulah, Tasikmalaya.
Setelah itu, beliau menetap di Kampung Kebonkalapa, Desa Sumelap, Kecamatan Cibeureum, Tasikmalaya, dan tidak lagi bermukim untuk belajar di tempat lain.
Mama Syaikhuna tercatat sebagai angkatan ketiga lulusan Pesantren Sukamanah.
Perjalanan dan Perjuangan Mengamalkan Ilmu
Sekitar tahun 1938 M, setelah menikah dengan Hj. Juhaenah, Mama Syaikhuna mulai mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat. Masa ini penuh dengan tantangan, sebab Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.
Jiwa patriotisme yang tertanam sejak mondok mendorong beliau aktif dalam gerakan Hizbullah melawan kolonialisme. Akibatnya, Mama Syaikhuna kerap ditangkap dan keluar-masuk penjara.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda pada 9 Maret 1942, beliau dibebaskan. Namun penjajahan Jepang tidak jauh berbeda dengan Belanda. Peristiwa pemberontakan Sukamanah tahun 1944 M yang dipimpin oleh KH. Zainal Mustofa kembali membuat Mama Syaikhuna berada dalam incaran Jepang, meskipun beliau tidak terlibat langsung.
Pasca kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Mama Syaikhuna mendirikan pesantren di Kebonkalapa, Cibeureum. Namun pada Agresi Militer Belanda I (27 Mei 1947), pesantren tersebut dibakar dan beliau kembali menjadi target penangkapan.
Dalam masa pengungsian yang panjang dan berpindah-pindah, beliau mengalami berbagai ujian berat, termasuk wafatnya istri pertama beliau, Hj. Juhaenah, akibat terkena pecahan bom Belanda.
Hijrah ke Cianjur dan Berdirinya Pesantren
Pada tahun 1956 M, Mama Syaikhuna hijrah ke Cianjur bersama sembilan orang santri. Setelah melalui beberapa tempat pengungsian, pada tahun 1958 M beliau menetap di Kampung Ciendog, Ciranjang.
Di tempat inilah dibangun Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri’ dengan bangunan sederhana namun sarat keberkahan. Mama Syaikhuna mengajar santri sejak pukul 03.30 pagi hingga menjelang siang, hampir seluruh hidupnya dicurahkan untuk mendidik santri agar menjadi ulama dalam waktu yang efektif, tanpa meninggalkan kedalaman ilmu dan adab.
Masjid pesantren mulai dibangun pada akhir 1967 M dan rampung pada 1968 M. Pesantren berkembang di atas lahan seluas 3.600 bata, hasil dari kecerdikan dan keberkahan ikhtiar beliau.













