JAKARTA, IkhbarNusantara.com – Majalah Risalah NU meluncurkan buku Antologi Karya Sastra Santri Nasional dalam kegiatan Halaqoh Sastra Santri Nusantara yang berlangsung di Aula Jacob Oetama, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Buku tersebut merupakan kumpulan cerpen karya 50 santri terpilih dalam Lomba Cerpen Nasional 2025 yang diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah alim ulama, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), akademisi, sastrawan, budayawan, santri, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus, puluhan kader Fatayat NU dari DKI Jakarta, serta para undangan.
Dalam rangkaian kegiatan bedah buku, panitia menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki latar belakang di bidang sastra dan jurnalistik. Mereka di antaranya Dinaldo, aktivis NU sekaligus penulis sastra; Yudhiarma, penulis dan jurnalis senior; serta Jahid Lukman yang merupakan salah satu juri Lomba Cerpen Nasional 2025.
Ketua Panitia Halaqoh Sastra Santri Nusantara, Jahid Lukman, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat tradisi literasi dan kreativitas sastra di kalangan santri.
Menurutnya, halaqoh ini menjadi ruang perjumpaan bagi santri, penulis, pegiat literasi, budayawan, akademisi, dan pemerhati pesantren untuk berbagi gagasan sekaligus membicarakan perkembangan sastra santri di tengah perubahan zaman.
“Jadi, sastra tidak hanya dipandang sebagai karya seni dan ekspresi kreatif, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi intelektual pesantren,” ungkap Jahid.
Antologi Sastra Jadi Wadah Kreativitas Santri
Jahid menjelaskan bahwa peluncuran Antologi Karya Sastra Santri Nasional menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan Halaqoh Sastra Santri Nusantara.
Buku tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan kreativitas santri sekaligus mendokumentasikan gagasan dan pengalaman mereka melalui karya sastra.
Menurutnya, kehadiran antologi ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya memiliki tradisi keagamaan yang kuat, tetapi juga menyimpan potensi besar dalam bidang kebudayaan dan literasi.
“Karya sastra para santri merekam berbagai pengalaman kehidupan, mulai dari dinamika pesantren, hubungan antara tradisi dan modernitas, kehidupan sosial, pendidikan, keluarga, hingga harapan generasi muda terhadap masa depan bangsa,” jelasnya.
Dorong Ekosistem Sastra Santri Berkelanjutan
Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, Khoirul Huda Sabili, berharap Halaqoh Sastra Santri Nusantara dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem sastra santri yang berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas bagi para santri untuk terus mengembangkan kemampuan menulis, berdiskusi, mengikuti forum sastra, hingga mempublikasikan karya mereka.
“Tidak berhenti pada penerbitan satu antologi, para santri diharapkan terus mendapatkan ruang untuk menulis, berdiskusi, mengikuti forum sastra, serta mempublikasikan karya mereka,” ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menegaskan posisi santri dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Dengan tradisi keilmuan pesantren yang kuat dan kreativitas yang terus berkembang, santri memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam memperkaya khazanah sastra dan kebudayaan Nusantara.
“Dengan tradisi keilmuan yang kuat dan kreativitas yang terus berkembang, santri dapat berkontribusi dalam memperkaya khazanah sastra dan kebudayaan Nusantara,” ungkapnya.
Melalui Halaqoh Sastra Santri Nusantara dan peluncuran Antologi Karya Sastra Santri Nasional, diharapkan lahir gerakan yang lebih luas dalam memperkuat literasi, kreativitas, serta peran santri dalam perkembangan kebudayaan Indonesia.
Penulis : aljawadd_
Editor : Mulki Algifari





















Komentar