[ditty id=593]

 

Santri Hari Ini Harus Menjadi Agen Perubahan, Bukan Penonton Zaman

Rabu, 4 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa Santri

Foto Istimewa Santri

Santri tidak dilahirkan untuk sekadar mengaji lalu pulang membawa ijazah moral. Santri dilahirkan oleh sejarah dan sejarah tidak pernah memanggil orang orang yang diam. Di tengah zaman yang gaduh oleh ketimpangan, kemiskinan, krisis moral, dan kebijakan yang sering jauh dari nurani rakyat, santri tidak boleh berdiri sebagai penonton yang saleh tapi bisu.

Santri hari ini harus menjadi agen perubahan. Bukan esok. Bukan nanti. Sekarang.

Zaman telah berubah, dan tantangan tak lagi sesederhana soal akidah dan ibadah. Ketidakadilan ekonomi menganga, pendidikan makin mahal, suara kaum lemah kian terpinggirkan, sementara kekuasaan sering lupa arah. Jika santri hanya sibuk menjaga kesalehan personal tanpa keberanian sosial, maka pesantren berisiko berubah menjadi menara gading, tinggi, tapi jauh dari denyut umat.

Padahal, sejak awal, santri adalah anak kandung perubahan. Dari bilik pesantren lahir perlawanan terhadap penjajahan, keberanian melawan kezaliman, dan etika kepemimpinan yang berakar pada adab. Santri bukan produk steril dari realitas, melainkan hasil didikan yang menyatu dengan penderitaan rakyat.

Ironisnya, hari ini ada kecenderungan santri dipuji sebatas simbol, sarung, peci, slogan moderasi, dan foto seremonial. Santri dielu-elukan, tapi jarang diajak bicara ketika kebijakan publik mencederai rasa keadilan. Santri dihormati, tapi tidak diberi ruang untuk menggugat.

Maka, santri tidak boleh puas menjadi objek romantisme sejarah. Santri harus kembali menjadi subjek perubahan sosial.

Menjadi agen perubahan tidak berarti santri harus turun ke jalan setiap hari. Tidak juga berarti semua santri harus menjadi politisi. Agen perubahan berarti berani bersuara ketika yang lemah diinjak, berani berpihak ketika netralitas justru melanggengkan ketidakadilan, dan berani berpikir kritis tanpa kehilangan adab.

Santri harus hadir di ruang-ruang strategis: pendidikan, media, kebijakan publik, ekonomi umat, dan advokasi sosial. Bukan untuk mencari kuasa, tapi untuk menjaga arah. Bukan untuk berebut panggung, tapi untuk memastikan cahaya nilai tidak padam di tengah gelapnya kepentingan.

Kesalehan santri tidak diukur dari seberapa sunyi lisannya, melainkan dari seberapa lantang nuraninya ketika kezaliman dipoles dengan bahasa kebijakan. Diam atas ketidakadilan bukan adab; itu pengkhianatan terhadap ilmu.

Pesantren mengajarkan adab sebelum ilmu. Tapi adab bukan alasan untuk tunduk pada ketimpangan. Adab adalah keberanian berkata benar dengan cara yang benar meski berhadapan dengan kekuasaan, modal, dan arus mayoritas.

Jika santri memilih aman, maka perubahan akan diambil alih oleh mereka yang tak punya kompas moral. Jika santri memilih nyaman, maka umat akan kehilangan penjaganya. Dan jika santri terus menunda peran sejarahnya, maka pesantren hanya akan dikenang, bukan dirindukan.

Hari ini, santri dituntut bukan hanya alim, tapi juga peka. Bukan hanya taat, tapi juga berpihak. Bukan hanya saleh, tapi juga berani.

Karena di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak membutuhkan santri yang sekadar pandai menghindar. Dunia membutuhkan santri yang berani hadir, bersuara, dan mengubah keadaan.

Santri hari ini bukan warisan masa lalu.

Santri hari ini adalah harapan masa depan.

 

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul
Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri
Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum
KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa
Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan
Libur Pesantren: Jeda Waktu, Bukan Jeda Nilai bagi Seorang Santri
Ketika Nyawa Menjadi Murah di Zaman yang Bising
Helm Itu Tidak Hanya Menghantam Kepala Seorang Anak Ia Menghantam Wajah Negara

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:23 WIB

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul

Jumat, 17 Juli 2026 - 02:47 WIB

Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri

Senin, 13 Juli 2026 - 12:43 WIB

Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum

Senin, 13 Juli 2026 - 03:29 WIB

KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa

Jumat, 13 Maret 2026 - 06:30 WIB

Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan

Berita Terbaru