[ditty id=593]

 

Ketika Nyawa Menjadi Murah di Zaman yang Bising

Selasa, 3 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Istimewa

Ilustrasi Istimewa

Sebagai santri, saya diajarkan bahwa satu nyawa setara dengan seluruh kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar seakan membunuh seluruh manusia. Itu bukan sekadar ayat yang dihafal, tapi prinsip yang ditanamkan dalam hati.

Namun sebagai mahasiswa, saya menyaksikan realitas yang berbeda. Berita tentang pembunuhan hadir hampir setiap hari di layar ponsel, di beranda media sosial, di grup WhatsApp keluarga. Kadang karena dendam, kadang karena ekonomi, kadang hanya karena emosi sesaat yang tak terkendali. Kita hidup di zaman ketika kemarahan lebih cepat daripada akal, dan tindakan lebih cepat daripada pertimbangan.

Saya bertanya dalam hati: apa yang sebenarnya sedang hilang dari diri kita?

Di pesantren, kami belajar tentang sabar, tentang menahan diri, tentang adab sebelum ilmu. Tapi di luar sana, dunia bergerak dalam kecepatan yang brutal. Semua ingin instan termasuk meluapkan amarah. Media sosial memperbesar kebencian, algoritma mempercepat provokasi, dan manusia yang rapuh mudah tersulut.

Sebagai mahasiswa, saya memahami bahwa maraknya pembunuhan tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial: ketimpangan ekonomi, krisis kesehatan mental, lemahnya penegakan hukum, serta budaya kekerasan yang dinormalisasi lewat tontonan dan wacana publik. Tapi sebagai santri, saya juga melihat ada krisis ruhani yang jauh lebih dalam: hati yang kehilangan rasa takut kepada Tuhan dan rasa hormat terhadap kehidupan.

Kita mungkin semakin pintar, tapi belum tentu semakin bijak. Kita mungkin semakin terdidik, tapi belum tentu semakin beradab.

Ilmu tanpa iman melahirkan kecerdikan yang bisa melukai. Iman tanpa ilmu bisa tumpul menghadapi realitas. Maka posisi santri & mahasiswa seharusnya menjadi jembatan: menghadirkan analisis yang rasional sekaligus suara nurani yang jernih.

Pembunuhan bukan sekadar angka statistik. Ia adalah kegagalan kolektif kegagalan keluarga dalam menanamkan kasih, kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter, kegagalan negara dalam menjamin keadilan, dan kegagalan individu dalam mengendalikan diri.

Saya percaya, solusi tidak cukup hanya dengan hukuman berat. Kita butuh revolusi akhlak. Kita butuh ruang-ruang pendidikan yang bukan hanya mencetak sarjana, tapi membentuk manusia. Kita butuh dakwah yang menyentuh luka psikologis generasi muda, bukan hanya menyampaikan dalil.

Sebagai santri dan mahasiswa, saya merasa terpanggil untuk tidak hanya mengeluh, tetapi terlibat. Menulis, berdiskusi, mengedukasi, dan menjaga lingkungan sekitar dari benih-benih kekerasan. Karena jika kita diam, kebisingan kebencian akan semakin menguasai ruang publik. Nyawa bukan angka. Nyawa adalah amanah.

Dan mungkin, di tengah zaman yang gaduh ini, tugas kita bukan hanya menjadi pintar tetapi menjadi penyejuk.

Penulis : Luthfi M. Fikri Al Zawad

Editor : Mulki Algifari

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul
Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri
Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum
KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa
Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan
Libur Pesantren: Jeda Waktu, Bukan Jeda Nilai bagi Seorang Santri
Helm Itu Tidak Hanya Menghantam Kepala Seorang Anak Ia Menghantam Wajah Negara
Ketika Cinta Mengganggu Pendidikan : Ego Wali Santri di Balik Layar Pesantren

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:23 WIB

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul

Jumat, 17 Juli 2026 - 02:47 WIB

Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri

Senin, 13 Juli 2026 - 12:43 WIB

Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum

Senin, 13 Juli 2026 - 03:29 WIB

KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa

Jumat, 13 Maret 2026 - 06:30 WIB

Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan

Berita Terbaru