Sebagai santri, saya diajarkan bahwa satu nyawa setara dengan seluruh kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar seakan membunuh seluruh manusia. Itu bukan sekadar ayat yang dihafal, tapi prinsip yang ditanamkan dalam hati.
Namun sebagai mahasiswa, saya menyaksikan realitas yang berbeda. Berita tentang pembunuhan hadir hampir setiap hari di layar ponsel, di beranda media sosial, di grup WhatsApp keluarga. Kadang karena dendam, kadang karena ekonomi, kadang hanya karena emosi sesaat yang tak terkendali. Kita hidup di zaman ketika kemarahan lebih cepat daripada akal, dan tindakan lebih cepat daripada pertimbangan.
Saya bertanya dalam hati: apa yang sebenarnya sedang hilang dari diri kita?
Di pesantren, kami belajar tentang sabar, tentang menahan diri, tentang adab sebelum ilmu. Tapi di luar sana, dunia bergerak dalam kecepatan yang brutal. Semua ingin instan termasuk meluapkan amarah. Media sosial memperbesar kebencian, algoritma mempercepat provokasi, dan manusia yang rapuh mudah tersulut.
Sebagai mahasiswa, saya memahami bahwa maraknya pembunuhan tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial: ketimpangan ekonomi, krisis kesehatan mental, lemahnya penegakan hukum, serta budaya kekerasan yang dinormalisasi lewat tontonan dan wacana publik. Tapi sebagai santri, saya juga melihat ada krisis ruhani yang jauh lebih dalam: hati yang kehilangan rasa takut kepada Tuhan dan rasa hormat terhadap kehidupan.
Kita mungkin semakin pintar, tapi belum tentu semakin bijak. Kita mungkin semakin terdidik, tapi belum tentu semakin beradab.
Ilmu tanpa iman melahirkan kecerdikan yang bisa melukai. Iman tanpa ilmu bisa tumpul menghadapi realitas. Maka posisi santri & mahasiswa seharusnya menjadi jembatan: menghadirkan analisis yang rasional sekaligus suara nurani yang jernih.
Pembunuhan bukan sekadar angka statistik. Ia adalah kegagalan kolektif kegagalan keluarga dalam menanamkan kasih, kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter, kegagalan negara dalam menjamin keadilan, dan kegagalan individu dalam mengendalikan diri.
Saya percaya, solusi tidak cukup hanya dengan hukuman berat. Kita butuh revolusi akhlak. Kita butuh ruang-ruang pendidikan yang bukan hanya mencetak sarjana, tapi membentuk manusia. Kita butuh dakwah yang menyentuh luka psikologis generasi muda, bukan hanya menyampaikan dalil.
Sebagai santri dan mahasiswa, saya merasa terpanggil untuk tidak hanya mengeluh, tetapi terlibat. Menulis, berdiskusi, mengedukasi, dan menjaga lingkungan sekitar dari benih-benih kekerasan. Karena jika kita diam, kebisingan kebencian akan semakin menguasai ruang publik. Nyawa bukan angka. Nyawa adalah amanah.
Dan mungkin, di tengah zaman yang gaduh ini, tugas kita bukan hanya menjadi pintar tetapi menjadi penyejuk.
Penulis : Luthfi M. Fikri Al Zawad
Editor : Mulki Algifari
























Komentar