Di pesantren, kita sering percaya bahwa yang sedang dididik hanyalah para santri. Padahal tidak. Yang diam-diam ikut ditempa sesungguhnya adalah para wali santri. Sebab mengirim anak ke pesantren bukan sekadar memindahkan tempat tidur dan lemari pakaian, tetapi memindahkan sebagian ego orang tua ke dalam sistem yang tidak lagi mereka kendalikan sepenuhnya.
Di situlah ujian dimulai.
Ada wali santri yang menyelipkan telepon genggam secara sembunyi-sembunyi, seakan peraturan adalah musuh yang harus dikalahkan dengan kecerdikan. Ada yang berdusta agar anaknya bisa pulang, seolah kejujuran bisa ditunda demi rasa rindu yang tidak sabar. Ada yang memaksa membawa pulang anaknya meski tidak diizinkan, seakan pesantren hanyalah tempat penitipan, bukan tempat pendidikan.
Semua itu sering dibungkus satu kata yang terdengar suci “cinta”. Padahal cinta, jika tidak disertai adab dan kepercayaan, mudah berubah menjadi gangguan.
Pesantren bekerja dengan ritme yang tidak selalu bisa dipahami oleh logika rumah. Ada proses yang tampak keras tetapi sesungguhnya sedang melembutkan. Ada hukuman yang terlihat menyakitkan tetapi justru sedang menyelamatkan. Ada aturan yang terasa mengekang tetapi sebenarnya sedang membebaskan.
Namun sebagian wali santri ingin tetap menjadi sutradara tunggal dalam kehidupan anaknya. Mereka tidak rela kehilangan kendali. Mereka ingin anaknya mondok, tetapi dengan sistem rumah. Mereka ingin anaknya disiplin, tetapi tanpa konsekuensi. Mereka ingin anaknya jadi baik, tetapi tanpa proses yang pahit.
Di sinilah ironi itu lahir.
Anak yang mulai kondusif di pesantren justru direcoki dari rumah. Anak putri yang sudah dijaga kehormatannya di lingkungan pondok, dilepas begitu saja ketika liburan. Guru yang bersusah payah mendidik justru menjadi sasaran amarah ketika memberi hukuman. Pelanggaran anak dibela habis-habisan, sementara kesaksian banyak orang dianggap tidak ada.
Seolah yang salah selalu pesantrennya. Seolah yang benar selalu anaknya.
Padahal pendidikan tidak pernah bisa berjalan jika kepercayaan dibagi dua.
Pesantren mendidik dengan kesabaran kolektif: kiai, bu nyai, pengurus, guru, bahkan sesama santri. Ketika satu wali santri datang dengan ketidakpercayaan, yang terganggu bukan hanya satu anak, tetapi seluruh ekosistem pendidikan. Disiplin menjadi tawar. Aturan menjadi bahan negosiasi. Wibawa guru pelan-pelan runtuh.
Dan yang paling dirugikan tetap anak itu sendiri.
Sebab ia belajar satu pelajaran yang berbahaya: bahwa setiap kesalahan bisa diselamatkan oleh orang tuanya.
bahwa setiap aturan bisa dilanggar jika ada pembela di belakangnya.
bahwa tanggung jawab bisa dialihkan.
Ini bukan lagi soal kenakalan santri. Ini soal kegagalan orang tua melepaskan anaknya untuk ditempa.
Mengirim anak ke pesantren sesungguhnya adalah latihan tawakkal sosial: mempercayakan pendidikan anak kepada sistem yang dibangun oleh orang-orang yang tidak kita gaji, tetapi kita hormati. Jika sejak awal yang dibawa adalah kecurigaan, maka mondok hanya akan menjadi perpindahan tempat, bukan perpindahan nilai.
Maka barangkali masalahnya bukan pada anak, bukan pada pesantren, tetapi pada satu hal yang paling halus dan paling sulit ditundukkan:
ego orang tua yang menyamar sebagai kasih sayang.
Kasih sayang yang benar seharusnya menguatkan proses, bukan merusaknya. Ia rela menahan rindu demi kematangan. Ia siap melihat anaknya dihukum jika memang bersalah. Ia percaya bahwa didikan kiai dan guru adalah bagian dari doa yang sedang dikabulkan.
Sebab wali santri yang matang tahu:
mondok itu bukan hanya mendidik anak, tetapi juga mendidik orang tua belajar percaya, belajar ikhlas, belajar tidak selalu ikut campur.
Dan mungkin di situlah letak derajat kewalian yang sebenarnya: bukan pada seberapa sering ia membela anaknya, tetapi pada seberapa kuat ia menahan diri untuk tidak merusak pendidikan anaknya.
Karena tidak semua yang lahir dari rasa sayang benar-benar menyelamatkan. Sebagian justru menjauhkan anak dari jalan panjang yang sedang Allah bukakan untuknya.
Baca Juga Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tegaskan MBG Tidak Kurangi Anggaran Pendidikan, Justru Alami Kenaikan
Penulis : As'ad
Editor : Fikri













