Di era digital yang serba cepat, dunia maya telah menjelma menjadi ruang publik baru. Semua orang bisa berbicara, menilai, bahkan mempengaruhi. Sekilas ini tampak sebagai kemenangan demokrasi, suara siapa pun punya tempat. Namun di balik itu, tersembunyi ironi besar yang semakin nyata kebenaran tidak lagi ditimbang dengan ilmu, melainkan dihitung dengan like, viewers, dan followers.
Kepakaran yang dulu menjadi rujukan, kini perlahan redup tertelan cahaya palsu bernama keviralan. Media sosial membuat semua orang tampak setara, seolah pengalaman puluhan tahun seorang ahli bisa dikalahkan oleh omon omon singkat seorang influencer. Ruang digital memang menghapus hierarki pengetahuan, tetapi bersamaan dengan itu, ia juga menghapus batas antara yang benar dan yang absurd.
Di tengah lautan konten tanpa filter, masyarakat kesulitan membedakan mana opini berbasis riset dan mana opini berbasis sensasi. Maka lahirlah zaman yang ganjil, yang viral dianggap benar, sementara yang benar sering tenggelam karena tidak viral.
Baca Juga BIOGRAFI SINGKAT ALMARHUM MAMA SYAIKHUNA KH. AHMAD FAQIH (Pendiri Pontren Miftahulhuda Al-Musri’)
Filsuf Nusantara, F. Budi Hardiman, dalam bukunya Aku Klik Maka Aku Ada, menggambarkan realitas ini dengan tajam. Ia menulis bahwa eksistensi manusia kini diukur bukan dari kedalaman berpikir, melainkan dari keterlibatannya dalam arus digital, “Aku klik, maka aku ada.” Artinya, keberadaan seseorang tidak lagi ditentukan oleh gagasan, tetapi oleh seberapa sering ia muncul di layar.
Fenomena ini terlihat jelas ketika isu-isu penting, termasuk dunia pesantren, muncul di media sosial. Tak jarang, opini influencer lebih dipercaya daripada penjelasan kiai atau cendekiawan Muslim. Otoritas pengetahuan perlahan berpindah tangan bukan kepada mereka yang memahami, tetapi kepada mereka yang populer.
Dalam konteks ini, keviralan menjadi bentuk baru pengakuan sosial. Banyak orang lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan nalar. Popularitas menggantikan substansi. Algoritma bekerja seperti pedagang emosi. menjual sensasi, kemarahan, dan tawa demi engagement. Akibatnya, masyarakat tidak lagi bertanya “apa yang benar,” tetapi “apa yang ramai dibicarakan.”
Dampaknya jauh lebih mengkhawatirkan daripada sekadar rusaknya jagat digital. Yang terancam adalah cara manusia berpikir. Saat kepakaran dikesampingkan, masyarakat kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dan kebisingan. Kita terbiasa bereaksi cepat tanpa sempat merenung, menelan informasi tanpa mengunyah, merasa tahu tanpa pernah belajar.
Dalam ruang kebisingan ini, lahirlah generasi yang lebih pandai berkomentar daripada mencari dasar dari komentarnya sendiri. Seorang profesor bisa kalah pamor dari konten kreator yang lebih lihai memainkan retorika dan algoritma. Seorang pakar bisa diabaikan karena ucapannya dianggap tidak menarik.
Inilah zaman ketika kepakaran dikalahkan oleh keviralan.
Namun, apakah kita harus menyerah pada arus ini? Tentu tidak. Justru di sinilah tantangannya, bagaimana kepakaran menemukan cara baru untuk tetap hidup di tengah masyarakat digital.
Para akademisi, ahli, dan cendekiawan tidak cukup hanya berbicara di ruang-ruang seminar yang tertutup. Mereka harus berani hadir di ruang digital, mewarnainya dengan pengetahuan yang sehat. Solusinya bukan menolak keviralan, tetapi menaklukkannya. Kebenaran harus dikemas secara komunikatif dan menarik tanpa kehilangan substansinya.
Ruang digital perlu disehatkan bukan hanya menjadi ruang kebisingan, tetapi ruang pencerahan. Dan yang paling penting, masyarakat harus memiliki literasi digital, kemampuan menilai konten, memahami konteks, dan menolak sensasi tanpa dasar.
Sebagaimana diingatkan Hardiman, di dunia yang serba klik ini, tugas kita adalah mengembalikan “ada” bukan kepada klik, tetapi kepada pikir.
Penulis sering mengibaratkan era digital seperti banjir bandang. Pilihannya hanya dua: berenang melawan arus dengan kesadaran dan adaptasi, atau diam dan tenggelam dalam derasnya informasi.
Saya tidak bisa membayangkan seperti apa wajah Indonesia di masa depan jika transformasi digital ini tidak direspons dengan bijak. Maka pertanyaannya kini bukan sekadar apa peran manusia di era digital, tetapi apakah kita masih sanggup menjaga kebenaran?
Mungkin jawabannya sederhana: tundukkan kepala sejenak, lalu bertanyalah dengan jujur pada hati kecil kita masing masing apakah kita masih mencari kebenaran, atau sekadar mengejar yang paling viral?
Baca Juga Santri Hari Ini Harus Menjadi Agen Perubahan, Bukan Penonton Zaman
Penulis : aljawadd_
Editor : Mulki Algifari
























Komentar