[ditty id=593]

 

Savic Ali Ungkap Tiga Tantangan NU Memasuki Abad Kedua

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa Suasana diskusi publik di Aula Kantor PKB,

Foto Istimewa Suasana diskusi publik di Aula Kantor PKB,

Jakarta, IkhbarNusantara – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Media, IT, dan Advokasi, Mohamad Syafi’ Alielha atau yang akrab disapa Savic Ali, memaparkan tiga tantangan besar yang akan dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) dalam memasuki abad kedua perjalanan organisasinya.

Hal tersebut disampaikan Savic dalam diskusi bertajuk Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua yang digelar di Aula Kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Savic menilai, tantangan tersebut muncul seiring besarnya jumlah warga NU yang diperkirakan mencapai sekitar 50 persen penduduk Indonesia. Namun, NU bukanlah negara yang memiliki otoritas fiskal seperti penerimaan pajak.

“Dengan jumlah warga yang begitu besar, bagaimana NU menavigasi warganya memasuki abad kedua? Tentu kita harus memahami seperti apa karakter abad kedua itu,” ujarnya.

Pergeseran Ekonomi Agraria

Savic menjelaskan, tantangan pertama berkaitan dengan perubahan besar di abad ke-21, yakni melemahnya ekonomi agraria. Selama ini, kultur warga NU banyak bertumpu pada basis pertanian dan kehidupan agraris.

Menurutnya, peralihan menuju era industrial dan modern akan membawa dampak signifikan terhadap NU sebagai organisasi sosial-keagamaan.

“Kalau kita bicara masa depan NU, kita juga harus memikirkan ekonomi agraria yang melahirkan kultur agraria yang tidak terikat pada waktu industrial,” lanjutnya.

Savic menegaskan bahwa kondisi petani akan berpengaruh langsung terhadap NU. Ketika sektor pertanian melemah, dampaknya pun akan terasa bagi organisasi.

“Kalau petani sulit panen dan nasibnya memburuk, dampaknya bagi NU pasti berat. Tapi kalau cerita petani itu menyenangkan, para pengurus NU tentu lebih ringan,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa sektor agraria kini semakin kompleks di tengah krisis pangan global dan instabilitas ekonomi dunia, terlebih ketika swasembada pangan menjadi prioritas pemerintah.

Pendidikan dan Mobilitas Sosial

Tantangan kedua, menurut Savic, terletak pada sektor pendidikan. Ia menilai NU memiliki kekuatan besar dalam pendidikan melalui jaringan pesantren yang luas.

Pesantren disebut telah menjadi fondasi mobilitas sosial bagi warga NU selama ini.

“Sektor pendidikan NU ditopang pesantren yang sangat banyak. Kita lahir dari keberhasilan mobilitas sosial yang tercipta melalui pendidikan,” ujarnya.

Savic menambahkan, generasi pascareformasi kini memiliki akses pendidikan yang jauh lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri. Karena itu, arah kebijakan pendidikan akan sangat menentukan masa depan NU.

“Kebijakan pendidikan sangat berpengaruh terhadap sejauh mana mobilitas vertikal warga NU bisa terus berkembang,” tegasnya.

Adaptasi di Era Digital

Tantangan ketiga adalah kemampuan NU untuk beradaptasi dengan pergeseran dunia digital yang membawa perubahan besar dalam norma sosial generasi muda.

Menurut Savic, dunia digital bukan hanya berdampak pada pekerjaan, tetapi juga pada pola relasi dan nilai-nilai kehidupan.

“Generasi yang terpapar berbagai hal dari dunia luar cenderung lebih terbuka dan egaliter,” jelasnya.

Ia mencontohkan relasi anak dan orang tua yang semakin berubah, sehingga model kepemimpinan berbasis figur karismatik tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan.

“Di NU sekarang tidak bisa lagi mengandaikan PBNU dipimpin figur kebapakan, lalu di bawahnya sami’na wa atha’na,” ujarnya.

Proses Kepemudaan di Tubuh PBNU

Sementara itu, pakar politik Indonesia Dr. Fachry Ali menilai bahwa kepengurusan PBNU dari era KH Said Aqil Siroj hingga KH Yahya Cholil Staquf menunjukkan proses regenerasi dan kepemudaan.

“Semakin lama, aktor-aktor dalam PBNU itu lebih muda. Jadi NU benar-benar mengalami proses kepemudaan,” katanya.

Ia menambahkan, regenerasi tersebut turut menggeser struktur penopang NU yang sebelumnya sangat agraris. NU pun dinilai semakin mengalami proses egalitarianisasi dalam kepemimpinan.

“Egalitarianisasi ini juga dipengaruhi dinamika politik nasional sejak reformasi, yang mendorong aktor-aktor terbaik NU masuk ke lembaga politik seperti PKB,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Santri Tahfidz Al Aziziyah Banten Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, dan Thailand
Mahasiswi IIQ Jakarta Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia 2026, Harumkan Pendidikan Islam Indonesia
Mama KH. Ahmad Faqih Dianugerahi Penghargaan Harlah ke-28 PKB atas Dedikasi bagi Pesantren dan Perjuangan Bangsa
Dua Santri Miftahulhuda Al-Musri’ Lolos International Conference Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, dan Thailand
Kiai Maman Imanulhaq: Keberhasilan Ekonomi Harus Diukur dari Keadilan Sosial, Bukan Sekadar Pertumbuhan
Dewan Pers Sesalkan Sikap Hotman Paris kepada Wartawan, Tegaskan Profesi Jurnalis Harus Dihormati
PN Jakarta Selatan Tolak Praperadilan Roy Suryo Terkait Kasus Dugaan Penyebaran Isu Ijazah Jokowi
Menag Nasaruddin Umar: Kerukunan dan Politik Bebas Aktif Jadi Modal Indonesia Bangun Perdamaian Dunia
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 09:29 WIB

Santri Tahfidz Al Aziziyah Banten Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, dan Thailand

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:20 WIB

Mahasiswi IIQ Jakarta Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia 2026, Harumkan Pendidikan Islam Indonesia

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:42 WIB

Dua Santri Miftahulhuda Al-Musri’ Lolos International Conference Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, dan Thailand

Jumat, 24 Juli 2026 - 00:39 WIB

Kiai Maman Imanulhaq: Keberhasilan Ekonomi Harus Diukur dari Keadilan Sosial, Bukan Sekadar Pertumbuhan

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:41 WIB

Dewan Pers Sesalkan Sikap Hotman Paris kepada Wartawan, Tegaskan Profesi Jurnalis Harus Dihormati

Berita Terbaru