BREBES — Wakil Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) PBNU, Rahmat Sahid, mendorong kalangan santri untuk meneladani langkah Plato dalam mengabadikan pemikiran gurunya. Ia menilai, tradisi intelektual tersebut perlu diadaptasi ke dalam ruang digital agar warisan keilmuan para ulama tetap hidup dan dapat diakses generasi mendatang.
Plato dikenal sebagai murid Socrates. Pemikiran Socrates yang sampai kepada dunia saat ini pada dasarnya bersumber dari catatan Plato, Xenophone (430-357), dan murid-murid lainnya. Penggambaran paling terkenal tentang Socrates tertuang dalam dialog-dialog yang ditulis Plato.
Baca Juga Helm Itu Tidak Hanya Menghantam Kepala Seorang Anak Ia Menghantam Wajah Negara
Dalam seminar literasi digital di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Ahad (25/9/2022), Rahmat menegaskan pentingnya dokumentasi digital terhadap jejak para guru dan ulama.
“Jika Plato tidak menulis tentang Scocrates dan memiliki murid Aristoteles maka mungkin ilmu filsafat tidak sampai pada kita. Santri perlu mengabadikan gurunya di dunia digital,” jelas Rahmat Sahid saat seminar literasi digital di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Ahad (25/9/2022).
Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang luas bagi santri untuk mendokumentasikan kiprah ulama melalui berbagai platform digital. Tanpa upaya tersebut, masyarakat bisa saja hanya mengenal figur ulama dari gambaran sinetron atau film, sementara ulama lokal yang memiliki sanad keilmuan jelas justru kurang dikenal.
“Ketika sosok ulama atau guru ditulis oleh orang yang mengalami ngaji langsung bersamanya akan berbeda rasa dan nilainya tulisan dengan penulis lainnya,” ungkap Rahmat.
Ia menambahkan, apabila semakin banyak santri memanfaatkan teknologi untuk menulis dan mendokumentasikan ulama, maka informasi yang muncul di mesin pencari akan menampilkan figur-figur dengan rekam jejak keilmuan yang jelas.
“Setidaknya Mbah Kiai Idris ada jejak digitalnya, Abah Kiai Mashuri akan dikenal dengan berbagai kelebihannya sehingga ketika diketik Ulama Brebes maka yang muncul Abah Mashuri dan ulama besar lainnya,” jelas Rahmat.
Baca Juga Tragedi di Tual : Anggota Brimob Polda Maluku Diduga Aniaya Siswa MTs hingga Tewas, Terancam PTDH
Rahmat menekankan bahwa literasi digital bagi kalangan nahdliyin bukan berarti meninggalkan tradisi luhur para pendahulu. Sebaliknya, nilai-nilai seperti kejujuran dan amanah tetap harus menjadi fondasi dalam bermedia sosial dan menulis di era teknologi.
“Sekarang anak muda tidak pernah belajar memegang handphone, tapi pintar menggunakannya. Maka manfaatkan untuk hal baik seperti mengabadikan guru dan ulama di dunia digital. Merekam ulama lokal,” ungkapnya.
Sementara itu, penulis buku Ulama Brebes, Lukman Hakim, mengajak santri untuk mulai menulis dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Ia menekankan bahwa keberanian memulai jauh lebih penting daripada menunggu tulisan menjadi sempurna.
“Saya dulu takut tulisan saya dikritik, padahal kalau tulisan kita dikritik berarti tulisan kita dibaca. Maka saya mengubah pemikiran, tetap lanjut menulis,” kenangnya.
Lukman menjelaskan, bahan tulisan bisa diambil dari pengalaman mengaji bersama kiai, materi pengajian, kisah-kisah yang disampaikan saat mengaji, hingga resensi kitab dan profil tokoh. Bahkan analisis kitab Fathul Qarib maupun refleksi dari nadzom Alfiyah dalam konteks sosial dapat menjadi bahan tulisan yang menarik.
Menurutnya, dakwah tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan. Gaya penulisan pun perlu disesuaikan dengan pembaca.
“Tulisan serius kadang lakunya di dunia akademik, di masyarakat umum kurang tepat. Tulisan sederhana dan memberikan solusi lebih menarik. Bisa juga menulis cara kiai mengatasi masalah,” tandas Lukman.
Baca Juga Ketika Cinta Mengganggu Pendidikan : Ego Wali Santri di Balik Layar Pesantren
Penulis : Luthfi M. Fikri Al Zawad
Editor : Mulki Algifari













