[ditty id=593]

 

Jabatan Ketua Tanpa Kegiatan: Kepemimpinan Kosong yang Merusak Organisasi

Selasa, 10 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi Istimewa

Foto Ilustrasi Istimewa

Dalam sejarah organisasi manapun baik pelajar, mahasiswa, kepemudaan, hingga lembaga sosial, kepemimpinan selalu menjadi jantung gerakan. Ketua bukan sekadar simbol administratif, melainkan motor yang menghidupkan agenda, menyatukan energi anggota, dan memastikan organisasi berjalan menuju tujuan.

Baca Juga Awal Puasa Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda, Ini Jadwal Versi Muhammadiyah, NU, BRIN, dan Pemerintah

Namun realitas hari ini menunjukkan satu penyakit yang kian sering muncul: ketua yang hadir hanya dalam struktur, tetapi absen dalam gerakan.

Organisasi akhirnya menjadi tubuh tanpa nyawa. Nama tetap ada, kepengurusan lengkap, stempel tersedia, rapat formal mungkin sesekali terjadi. Tetapi kegiatan nihil. Program kerja hanya menjadi dokumen di atas kertas. Dan anggota, yang seharusnya menjadi kader perjuangan, justru dibiarkan menunggu tanpa arah.

Lebih ironis, jabatan ketua sering diperlakukan seperti pencapaian pribadi, bukan amanah kolektif. Banyak yang berlomba menjadi pemimpin, tetapi sedikit yang benar-benar siap memimpin. Banyak yang ingin dipanggil “ketua,” namun enggan memikul beban tanggung jawab yang menyertainya.

Padahal, organisasi tidak pernah hidup dari titel.

Organisasi hidup dari kerja nyata: pelatihan, diskusi, aksi sosial, advokasi, kaderisasi, dan gerakan yang menyentuh masyarakat. Ketika seorang ketua tidak pernah melahirkan kegiatan sama sekali, maka pertanyaannya bukan lagi soal kurangnya waktu melainkan soal hilangnya kesadaran kepemimpinan.

Sebab stagnasi bukan sekadar kelalaian teknis. Ia adalah bentuk kegagalan moral.

Ketua yang pasif bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi merampas kesempatan anggota untuk tumbuh. Ia mematikan ruang belajar, mengubur potensi kader, dan mengubah organisasi menjadi sekadar formalitas tahunan.

Dan yang paling berbahaya, budaya diam itu menular.

Hari ini organisasi vakum karena pemimpinnya tak bergerak. Besok, generasi berikutnya tumbuh dengan standar rendah: bahwa organisasi cukup ada namanya saja, tanpa kerja dan kontribusi.

Baca Juga Santri dan Mahasiswa: Dua Pilar Intelektual Penentu Arah Peradaban Bangsa

Kritik terhadap kepemimpinan yang mandek bukanlah kebencian personal. Ini adalah alarm keras bahwa organisasi bukan tempat bersembunyi di balik jabatan, melainkan ruang pengabdian dan perjuangan.

Jika seorang ketua tidak mampu menggerakkan, maka organisasi berhak bertanya: untuk apa kepemimpinan itu ada?

Karena dalam dunia gerakan, satu hal selalu benar, organisasi yang tidak bergerak, sejatinya sedang menuju mati perlahan, tetapi pasti.

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul
Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri
Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum
KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa
Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan
Libur Pesantren: Jeda Waktu, Bukan Jeda Nilai bagi Seorang Santri
Ketika Nyawa Menjadi Murah di Zaman yang Bising
Helm Itu Tidak Hanya Menghantam Kepala Seorang Anak Ia Menghantam Wajah Negara

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:23 WIB

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul

Jumat, 17 Juli 2026 - 02:47 WIB

Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri

Senin, 13 Juli 2026 - 12:43 WIB

Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum

Senin, 13 Juli 2026 - 03:29 WIB

KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa

Jumat, 13 Maret 2026 - 06:30 WIB

Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan

Berita Terbaru