Di balik kemajuan sebuah pesantren, selalu ada sosok-sosok yang memilih berjalan dalam kesederhanaan, mengabdikan hidupnya tanpa mencari popularitas maupun penghormatan. Mereka menjadikan ilmu sebagai amanah, dakwah sebagai jalan hidup, dan pelayanan kepada masyarakat sebagai bentuk ibadah. Salah satu di antaranya ialah Almaghfurlah Kyai Asep Saepudin, seorang alumni Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat Cianjur yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai pribadi istiqamah, rendah hati, serta mengayomi masyarakat dengan penuh kasih sayang.
Beliau lahir di Garut pada 6 Juni 1966, tepatnya di Kampung Cangkuang, RT 03/RW 09, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kyai Asep Saepudin merupakan putra dari Bapak Sobandi dan cucu dari Bapak Abdullah. Menurut penuturan keluarga, silsilah nasab beliau masih memiliki hubungan dengan keturunan ulama yang berperan dalam perkembangan dakwah Islam di Jawa Barat. Akan tetapi, keluarga memilih untuk tidak mempublikasikan garis nasab tersebut secara lengkap sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat para leluhur agar tetap menjaga sikap tawadhu’ dan tidak menjadikan garis keturunan sebagai alasan untuk merasa lebih mulia dibandingkan orang lain. Oleh sebab itu, perjalanan hidup beliau lebih layak dikenang melalui ilmu, akhlak, dan pengabdiannya kepada umat.
Masa kecil beliau dihabiskan di lingkungan masyarakat yang religius dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Pendidikan formal ditempuh di Sekolah Dasar (SD) Maja, Garut. Di luar pendidikan sekolah, kecintaan beliau terhadap ilmu agama telah tumbuh sejak usia dini. Beliau pertama kali belajar membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama kepada Aki Ghani dengan sistem ngalong atau santri kalong, yaitu belajar mengaji tanpa bermukim di pesantren. Dari pengajian sederhana inilah tumbuh semangat beliau untuk terus memperdalam ilmu agama.
Kehausan terhadap ilmu kemudian membawanya menjadi seorang santri kelana. Beliau terlebih dahulu belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa, Garut, di bawah asuhan KH. R. Ahmad Jawari bin KH. R. Kholil. Setelah memperoleh bekal dasar yang kuat, beliau melanjutkan perjalanan intelektual ke Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat Cianjur, salah satu pesantren salaf yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pendidikan Islam di Jawa Barat.
Berdasarkan arsip otentik Kartu Pelajar Santri Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat, Kyai Asep Saepudin resmi tercatat sebagai santri mukim pada tanggal 3 November 1995. Masa pendidikan di Al-Musri’ Pusat menjadi fase yang paling penting dalam pembentukan karakter, keluasan wawasan, kedalaman spiritual, dan semangat pengabdian beliau.

Tradisi pendidikan di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Syaikhuna KH. Ahmad Faqih, pendiri pesantren yang meletakkan fondasi keilmuan, adab, dan perjuangan dakwah di lembaga tersebut. Melalui warisan pendidikan beliau, Al-Musri’ Pusat berkembang menjadi salah satu pusat transmisi ilmu-ilmu Islam klasik yang melahirkan banyak ulama, dai, guru, dan pengasuh pesantren di berbagai daerah. Dalam lingkungan inilah Kyai Asep Saepudin ditempa melalui tradisi talaqqi, bandongan, sorogan, musyawarah kitab, serta pembiasaan adab kepada guru yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren salaf.
Selama menempuh pendidikan di Al-Musri’ Pusat, beliau memperdalam berbagai cabang ilmu keislaman melalui kajian kitab-kitab turats yang menjadi kurikulum utama pesantren. Disiplin ilmu yang dipelajari meliputi fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, tauhid, nahwu, sharaf, tasawuf, dan akhlak melalui pengkajian kitab-kitab seperti Fathul Mu’in, Jam’ul Jawami’, Fathul Wahhab, Alfiyah Ibnu Malik, Tafsir Jalalain, Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin, Ta’limul Muta’allim, Al-Hikam, Sullamut Taufiq, serta berbagai kitab klasik lainnya yang menjadi rujukan pembelajaran di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat. Penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu tersebut membentuk keluasan wawasan keagamaan sekaligus memperkuat karakter beliau sebagai seorang pendidik.

Setelah menyelesaikan masa pendidikan, Kyai Asep Saepudin mengabdikan dirinya di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Kertamukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Beliau menjadi bagian dari keluarga besar pesantren melalui pernikahannya dengan Ibu Nyai Aas Asiah, putri dari Kyai M. E. Koshidin, yang pada masa itu dikenal sebagai salah seorang sesepuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Bersama sang istri, beliau melanjutkan tradisi pendidikan, pembinaan santri, dan pelayanan kepada masyarakat dengan penuh kesederhanaan.
Selain mendalami ilmu syariat, Kyai Asep Saepudin juga menempuh pembinaan ruhani melalui Thariqah At-Tijaniyah. Nilai-nilai spiritual tersebut semakin memperkuat kepribadian beliau sebagai sosok yang tenang, santun, sabar, dan penuh kasih sayang dalam membimbing masyarakat.
Aktivitas dakwah beliau tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren, tetapi juga melalui berbagai majelis taklim di wilayah Cipatat dan sekitarnya. Salah satu majelis yang secara konsisten beliau bina adalah Majelis Ta’lim Bahrul Ulum, di samping berbagai pengajian rutin lainnya. Dalam setiap majelis, beliau menyampaikan ilmu dengan bahasa yang sederhana, menenangkan, dan mudah dipahami sehingga masyarakat dari berbagai kalangan merasa dekat dengan beliau.
Di mata masyarakat, Kyai Asep Saepudin dikenal sebagai sosok yang mengayomi, bukan menghakimi. Beliau lebih memilih merangkul daripada menyalahkan, lebih mengutamakan nasihat daripada celaan, serta lebih menonjolkan keteladanan daripada sekadar perkataan. Siapa pun yang datang meminta bimbingan akan diterima dengan penuh keramahan tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun tingkat pemahaman agama.
Para santri mengenang beliau sebagai guru yang istiqamah dalam mengajar. Beliau sering berpesan agar jangan pernah meninggalkan majelis ilmu hanya karena sedikitnya jumlah santri atau jamaah. Menurut beliau, keberkahan ilmu tidak diukur dari banyaknya orang yang hadir, melainkan dari keikhlasan guru dalam mengajar dan kesungguhan murid dalam menuntut ilmu. Nasihat tersebut hingga kini terus dikenang sebagai warisan moral bagi para santri dan masyarakat.
Sebagai ulama yang tumbuh dalam tradisi pesantren salaf, Kyai Asep Saepudin lebih banyak mewariskan ilmunya melalui pengajian, pembelajaran kitab, dan bimbingan langsung kepada para santri. Dalam proses mengajar, beliau menyusun berbagai talkhish atau catatan ringkas dari pelajaran para guru di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat sebagai bahan untuk memperdalam pemahaman terhadap kitab-kitab yang dipelajari. Tradisi seperti ini telah menjadi bagian dari budaya keilmuan pesantren, di mana ilmu diwariskan dari guru kepada murid melalui proses belajar yang berkesinambungan. Oleh karena itu, warisan terbesar Kyai Asep Saepudin bukan hanya berupa catatan pengajian, tetapi juga lahirnya santri-santri yang terus mengamalkan ilmu, menjaga akhlak, serta meneruskan semangat keikhlasan dan istiqamah yang beliau teladankan sepanjang hidupnya.
Perjalanan pengabdian beliau berakhir pada Rabu, 29 Juni 2022, bertepatan dengan 29 Dzulkaidah 1443 Hijriah. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, Ibu Nyai Aas Asiah, para santri, masyarakat, serta keluarga besar alumni Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat. Meskipun raganya telah tiada, keteladanan beliau sebagai seorang santri yang istiqamah, guru yang ikhlas, kiai yang mengayomi, dan pribadi yang senantiasa menjaga adab akan terus hidup dalam ingatan para murid dan masyarakat. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya bersama para ulama, shalihin, dan hamba-hamba-Nya yang memperoleh rahmat dan ridha-Nya.
Sumber dat: Arsip Kartu Pelajar Santri Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat tertanggal 3 November 1995, dokumentasi Pondok Pesantren Nurul Hidayah, serta verifikasi riwayat hidup dari pihak keluarga.
Penulis : Munawar Hakimi Ahmad Qulyubi, S.E., M.E.
Editor : Luthfi M Fikri Al Zawad























Komentar