[ditty id=593]

 

Mama KH. Ahmad Faqih Dianugerahi Penghargaan Harlah ke-28 PKB atas Dedikasi bagi Pesantren dan Perjuangan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fotret Istimewa (Dok. DPP PKB)

Fotret Istimewa (Dok. DPP PKB)

JAKARTA, IkhbarNusantara – Almarhum Mama KH. Ahmad Faqih, pendiri Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat, Cianjur, menerima penghargaan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam rangkaian Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada para kiai yang dinilai berjasa besar dalam membumikan ajaran Islam sekaligus memperkokoh semangat kebangsaan.

Penghargaan diserahkan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH. Manarul Hidayah bersama Sekretaris Jenderal DPP PKB M. Hasanuddin Wahid pada puncak peringatan Harlah ke-28 PKB yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis malam (23/7/2026).

Penghargaan untuk Mama KH. Ahmad Faqih diterima oleh putranya, KH. Mamal Mali Murtadlo, Lc., yang hadir mewakili keluarga besar.

Baca Juga : Dua Santri Miftahulhuda Al-Musri’ Lolos International Conference Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, dan Thailand

Wakil Ketua Umum DPP PKB, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengatakan penghargaan tersebut diberikan kepada lima tokoh kiai yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pendidikan pesantren, dakwah Islam, serta penguatan persatuan bangsa.

“Penghargaan PKB ini kami persembahkan kepada para kiai yang berdakwah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan napas yang menyatu dengan nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air, menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami oleh umat,” ujar Cucun.

Menurutnya, para kiai tersebut telah menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam.

“Sepanjang hidup beliau-beliau mendedikasikan diri untuk mendidik umat dan rakyat bahwa mencintai Indonesia sama pentingnya dengan mencintai agamanya. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sama mulianya dengan melaksanakan rukun Islam,” lanjutnya.

Baca Juga : Kiai Maman Imanulhaq: Keberhasilan Ekonomi Harus Diukur dari Keadilan Sosial, Bukan Sekadar Pertumbuhan

Mama KH. Ahmad Faqih dikenal sebagai ulama pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam, dakwah, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain mendirikan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ di Kabupaten Cianjur, beliau juga tercatat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan.

Dalam sejarah perjuangannya, Mama KH. Ahmad Faqih pernah ditahan oleh tentara Jepang karena terlibat perjuangan bersama KH. Zainal Mustofa melawan penjajah. Pondok pesantren yang beliau dirikan pun pernah dibakar oleh tentara Belanda sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain KH. Ahmad Faqih, PKB juga menganugerahkan penghargaan kepada empat tokoh ulama lainnya, yakni KH. Sahal Mahfudh, KH. Hasyim Muzadi, KH. Imron Hamzah, dan KH. Bukhori Masruri. Kelima tokoh tersebut dinilai memiliki kontribusi besar dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, memperkuat nasionalisme, serta menjaga persatuan bangsa melalui dakwah dan pendidikan.

Baca Juga : Rokok SIN Herbal, Menghadirkan Racikan Herbal Tradisional Warisan Leluhur Nusantara

Melalui penghargaan ini, PKB menegaskan komitmennya untuk terus merawat warisan perjuangan para ulama dan pesantren yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Keteladanan para kiai tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga harmoni antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Pusat, penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasi dan perjuangan Mama KH. Ahmad Faqih dalam membangun pendidikan pesantren sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan cinta tanah air yang terus diwariskan kepada generasi santri hingga saat ini.

Penulis : Luthfi M. Fikri Al Zawad

Editor : Mulki Algifari

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Jateng Tegaskan Penyidikan Kasus Perusakan Warung Mi Babi Tepi Sawah Sesuai Prosedur
Budi Arie Respons Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran: Tidak Mundur dari Wapres
Pesantren Hamalatul Qur’an Sukoharjo Protes Penggerebekan Polisi, Soroti Dugaan Kekerasan terhadap Santriwati
MA Kabulkan Kasasi Subhan, Surat Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Dinyatakan Tidak Sah
PKB Minta Pemerintah Kaji Ulang PPN 11 Persen Pembalut, Dinilai Bebani Perempuan
KPK Tetapkan Ahmad Dedi alias Dedi Congor sebagai Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai
Gus Kikin Ungkap Sejarah Kembalinya NU ke Khittah 1926 di Pesantren Sukorejo
Indonesia–Singapura Sepakat Bentuk Satgas Gabungan untuk Tindak Korporasi Pembakar Hutan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:24 WIB

Polda Jateng Tegaskan Penyidikan Kasus Perusakan Warung Mi Babi Tepi Sawah Sesuai Prosedur

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:14 WIB

Budi Arie Respons Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran: Tidak Mundur dari Wapres

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:15 WIB

Pesantren Hamalatul Qur’an Sukoharjo Protes Penggerebekan Polisi, Soroti Dugaan Kekerasan terhadap Santriwati

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:22 WIB

MA Kabulkan Kasasi Subhan, Surat Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Dinyatakan Tidak Sah

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:18 WIB

PKB Minta Pemerintah Kaji Ulang PPN 11 Persen Pembalut, Dinilai Bebani Perempuan

Berita Terbaru