Belakangan ini, pesantren kembali menjadi sasaran tuduhan. Tradisi mencium tangan kiai, duduk menunduk saat pengajian, hingga ngalap barokah disebut sebagai warisan feodalisme, bahkan ada yang berani menyematkan label “syirik terselubung”. Tuduhan ini terdengar lantang, tetapi sayangnya miskin pemahaman. Masalahnya bukan pada pesantren, melainkan pada cara sebagian orang membaca tradisi: terlalu cepat menghakimi, terlalu malas memahami.
Adab Dibaca dengan Kacamata Arogan
Bagi sebagian kalangan modern, semua yang tidak sesuai dengan logika personal dianggap salah. Segala bentuk penghormatan fisik dicurigai sebagai penghambaan. Padahal, Islam sejak awal membedakan dengan tegas antara penghormatan (ta‘ẓīm) dan penyembahan (‘ibādah). Ironisnya, mereka yang paling keras menuduh feodalisme justru sering terjebak dalam feodalisme baru: mengultuskan rasio pribadi, seolah akalnya menjadi standar kebenaran tunggal. Pesantren tidak pernah mengajarkan santri untuk menyembah kiai. Yang diajarkan adalah menghormati ilmu dan memuliakan orang yang mengajarkannya. Dua hal yang hari ini justru semakin langka.
Mencium Tangan Bukan Menyembah
Mari jujur. Jika mencium tangan kiai disebut feodal, lalu bagaimana dengan mencium tangan orang tua, berdiri memberi hormat pada atasan, atau berjabat tangan sambil membungkuk dalam forum resmi? Semua itu adalah bahasa budaya tentang hormat, bukan ritual ibadah. Dalam tradisi pesantren, mencium tangan kiai adalah simbol kerendahan hati: aku butuh ilmu, aku tidak lebih tahu. Sebuah sikap yang justru bertolak belakang dengan mental feodal yang haus kekuasaan.
Pesantren Tidak Mencetak Budak, Tapi Manusia Beradab
Tuduhan bahwa pesantren melahirkan manusia pasif dan tunduk buta adalah mitos lama yang terus diulang tanpa data. Sejarah justru membuktikan sebaliknya. Dari pesantren lahir ulama yang berani menegur penguasa, santri yang melawan penjajahan, dan pemikir yang kritis namun beradab. Pesantren mendidik santri untuk tunduk pada kebenaran, bukan pada manusia. Bedanya tipis, tapi maknanya jauh. Yang feodal adalah sistem yang mematikan akal. Pesantren justru menertibkan akal agar tidak liar dan sombong.
Ngalap Barokah Cinta yang Disalahpahami
Banyak yang menertawakan tradisi ngalap barokah, seolah itu praktik mistik irasional. Padahal, inti dari ngalap barokah adalah doa dan harapan kepada Allah, bukan kepada manusia. Santri tidak pernah meyakini kiai sebagai sumber kekuatan. Mereka meyakini kiai sebagai hamba Allah yang dekat dengan ilmu dan doa. Lucunya, mereka yang menuduh syirik sering kali tanpa sadar menggantungkan hidupnya pada kekuasaan, jabatan, dan sistem sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi tauhid.
Kritik Itu Perlu, Tapi Jangan Malas Berpikir
Pesantren bukan lembaga suci yang kebal kritik. Banyak hal yang memang perlu dibenahi. Tetapi kritik yang baik lahir dari pemahaman, bukan dari prasangka. Menuduh adab sebagai feodalisme hanya karena tidak sesuai selera pribadi adalah bentuk kemalasan intelektual. Itu bukan pencerahan, melainkan penyederhanaan berbahaya. Jika ingin jujur, krisis terbesar bangsa ini bukan pada tradisi yang terlalu hormat, tetapi pada generasi yang kehilangan adab namun merasa paling cerdas.
Adab Bukan Musuh Kemajuan
Pesantren tidak anti modernitas. Yang ditolak pesantren adalah modernitas yang arogan yang merasa paling rasional sambil menertawakan kearifan. Adab tidak mematikan nalar. Justru adab menjaga nalar agar tidak berubah menjadi kesombongan. Di pesantren, santri diajari satu pelajaran sederhana namun mahal harganya: ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan manusia pandai yang merasa paling benar. Dan sejarah membuktikan, tipe manusia seperti itulah yang paling sering merusak peradaban.
























Komentar