[ditty id=593]

 

Menuduh Pesantren Feodal: Kritik Dangkal yang Gagal Memahami Adab

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto santri mencium tangan kyai yang merupakan keta'diman seorang santri sumber darulmaarif.net

Foto santri mencium tangan kyai yang merupakan keta'diman seorang santri sumber darulmaarif.net

Belakangan ini, pesantren kembali menjadi sasaran tuduhan. Tradisi mencium tangan kiai, duduk menunduk saat pengajian, hingga ngalap barokah disebut sebagai warisan feodalisme, bahkan ada yang berani menyematkan label “syirik terselubung”. Tuduhan ini terdengar lantang, tetapi sayangnya miskin pemahaman. Masalahnya bukan pada pesantren, melainkan pada cara sebagian orang membaca tradisi: terlalu cepat menghakimi, terlalu malas memahami.

Adab Dibaca dengan Kacamata Arogan

Bagi sebagian kalangan modern, semua yang tidak sesuai dengan logika personal dianggap salah. Segala bentuk penghormatan fisik dicurigai sebagai penghambaan. Padahal, Islam sejak awal membedakan dengan tegas antara penghormatan (ta‘ẓīm) dan penyembahan (‘ibādah). Ironisnya, mereka yang paling keras menuduh feodalisme justru sering terjebak dalam feodalisme baru: mengultuskan rasio pribadi, seolah akalnya menjadi standar kebenaran tunggal. Pesantren tidak pernah mengajarkan santri untuk menyembah kiai. Yang diajarkan adalah menghormati ilmu dan memuliakan orang yang mengajarkannya. Dua hal yang hari ini justru semakin langka.

Mencium Tangan Bukan Menyembah

Mari jujur. Jika mencium tangan kiai disebut feodal, lalu bagaimana dengan mencium tangan orang tua, berdiri memberi hormat pada atasan, atau berjabat tangan sambil membungkuk dalam forum resmi? Semua itu adalah bahasa budaya tentang hormat, bukan ritual ibadah. Dalam tradisi pesantren, mencium tangan kiai adalah simbol kerendahan hati: aku butuh ilmu, aku tidak lebih tahu. Sebuah sikap yang justru bertolak belakang dengan mental feodal yang haus kekuasaan.

Pesantren Tidak Mencetak Budak, Tapi Manusia Beradab

Tuduhan bahwa pesantren melahirkan manusia pasif dan tunduk buta adalah mitos lama yang terus diulang tanpa data. Sejarah justru membuktikan sebaliknya. Dari pesantren lahir ulama yang berani menegur penguasa, santri yang melawan penjajahan, dan pemikir yang kritis namun beradab. Pesantren mendidik santri untuk tunduk pada kebenaran, bukan pada manusia. Bedanya tipis, tapi maknanya jauh. Yang feodal adalah sistem yang mematikan akal. Pesantren justru menertibkan akal agar tidak liar dan sombong.

Ngalap Barokah Cinta yang Disalahpahami

Banyak yang menertawakan tradisi ngalap barokah, seolah itu praktik mistik irasional. Padahal, inti dari ngalap barokah adalah doa dan harapan kepada Allah, bukan kepada manusia. Santri tidak pernah meyakini kiai sebagai sumber kekuatan. Mereka meyakini kiai sebagai hamba Allah yang dekat dengan ilmu dan doa. Lucunya, mereka yang menuduh syirik sering kali tanpa sadar menggantungkan hidupnya pada kekuasaan, jabatan, dan sistem sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi tauhid.

Kritik Itu Perlu, Tapi Jangan Malas Berpikir

Pesantren bukan lembaga suci yang kebal kritik. Banyak hal yang memang perlu dibenahi. Tetapi kritik yang baik lahir dari pemahaman, bukan dari prasangka. Menuduh adab sebagai feodalisme hanya karena tidak sesuai selera pribadi adalah bentuk kemalasan intelektual. Itu bukan pencerahan, melainkan penyederhanaan berbahaya. Jika ingin jujur, krisis terbesar bangsa ini bukan pada tradisi yang terlalu hormat, tetapi pada generasi yang kehilangan adab namun merasa paling cerdas.

Adab Bukan Musuh Kemajuan

Pesantren tidak anti modernitas. Yang ditolak pesantren adalah modernitas yang arogan yang merasa paling rasional sambil menertawakan kearifan. Adab tidak mematikan nalar. Justru adab menjaga nalar agar tidak berubah menjadi kesombongan. Di pesantren, santri diajari satu pelajaran sederhana namun mahal harganya: ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan manusia pandai yang merasa paling benar. Dan sejarah membuktikan, tipe manusia seperti itulah yang paling sering merusak peradaban.

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul
Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri
Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum
KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa
Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan
Libur Pesantren: Jeda Waktu, Bukan Jeda Nilai bagi Seorang Santri
Ketika Nyawa Menjadi Murah di Zaman yang Bising
Helm Itu Tidak Hanya Menghantam Kepala Seorang Anak Ia Menghantam Wajah Negara

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:23 WIB

Simposium Internasional Santri Mendunia 2026 Chapter Turki Resmi Dibuka, Pemuda Indonesia Berpeluang Ikuti Program Fully Funded ke Istanbul

Jumat, 17 Juli 2026 - 02:47 WIB

Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri

Senin, 13 Juli 2026 - 12:43 WIB

Penggeledahan Kasus Korupsi Rp476 Miliar hingga Pengunduran Diri Febrie Adriansyah, Publik Soroti Dinamika Penegakan Hukum

Senin, 13 Juli 2026 - 03:29 WIB

KH Marsudi Syuhud Sowan ke Abuya Muhtadi Dimyathi, Bahas Masa Depan NU sebagai Pilar Perdamaian Bangsa

Jumat, 13 Maret 2026 - 06:30 WIB

Santri Tidak Bodoh, Hanya Terlalu Sering Diremehkan

Berita Terbaru