[ditty id=593]

 

Profil Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri: Pesantren Salafiyah Terbesar di Cianjur yang Mencetak Generasi Qur’ani

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Gerbang Awal masuk Menuju Komplek Pesantren

Foto Gerbang Awal masuk Menuju Komplek Pesantren

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri merupakan salah satu pesantren salafiyah terbesar di Kabupaten Cianjur. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1947 dan didirikan oleh almarhum KH. Ahmad Faqih.

Pada awal berdirinya, pesantren ini bernama Miftahul Huda Cianjur. Kemudian pada tahun 1974, nama tersebut berubah menjadi Miftahulhuda Al-Musri. Penambahan nama Al-Musri merujuk pada sistem pembelajaran khas pesantren yang bermakna cepat. Melalui sistem tersebut, santri dapat menyelesaikan pendidikan kepesantrenan dalam waktu tujuh tahun enam bulan.

Sejak masa perintisan, Pondok Pesantren Al-Musri terus mengalami perkembangan. Pada awalnya, pesantren ini hanya memiliki satu bangunan sederhana dengan jumlah santri sekitar 10 orang. Kini, Al-Musri telah berkembang pesat dengan luas lahan mencapai 40 ribu meter persegi.

Pesantren ini juga didukung oleh sekitar 90 pengajar senior serta lebih dari 21 fasilitas penunjang. Fasilitas tersebut meliputi 10 asrama putra dan putri, enam fasilitas ibadah atau masjid, layanan kesehatan, fasilitas perbelanjaan, perpustakaan, kantin, lapangan serbaguna, aula, transportasi, dan berbagai sarana umum lainnya.

Saat ini, jumlah santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri telah mencapai lebih dari 3.500 orang, terdiri dari santri putra dan santri putri.

Dalam sistem pendidikannya, Pesantren Al-Musri menerapkan pembelajaran salafiyah dengan kajian berbagai fan ilmu keislaman. Santri mempelajari lebih dari 15 bidang ilmu, di antaranya tauhid, nahwu, shorof, ma’ani, bayan, badi’, fiqih, ushul fiqih, falak atau astronomi, serta berbagai disiplin ilmu lainnya.

Sebagai pesantren salafiyah, Al-Musri memiliki sembilan program khas yang menjadi ciri utama pembelajaran santri. Program tersebut meliputi Shorogan, Balaghan, Tarkiban, Tashrifan, Setoran Hafalan, Mubalighan, Pembacaan, Ulangan, dan Bahtsul Masail.

Program Shorogan menjadi metode pembelajaran aktif santri di hadapan guru. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan setiap hari pada waktu subuh dan magrib. Dalam praktiknya, santri membaca kitab kuning beserta maknanya, kemudian guru menyimak, mengoreksi, dan meluruskan bacaan.

Sementara itu, Balaghan merupakan metode pembelajaran dengan guru sebagai pihak yang aktif membacakan materi ajar. Santri menyimak, mencatat, dan memberi makna pada kitab kuning sebagaimana dibacakan oleh guru atau kiai. Metode ini dikenal juga dengan istilah ngalogat.

Selain itu, terdapat program Tarkiban yang melatih santri dalam berdiskusi dan beradu argumentasi secara baik dan benar. Kegiatan ini dilakukan secara rutin dan menjadi sarana pembentukan daya pikir kritis santri, khususnya dalam memahami persoalan keagamaan.

Program Tashrifan juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran di Al-Musri. Program ini berfokus pada fan shorof, yakni ilmu perubahan bentuk kata untuk menghasilkan makna tertentu sesuai kaidah bahasa Arab.

Pesantren Al-Musri juga memiliki program Setoran Hafalan. Dalam kegiatan ini, santri menyetorkan hafalan yang telah dipelajari selama satu minggu kepada pembimbing sesuai tingkatan kelas masing-masing.

Untuk membentuk kemampuan berdakwah, pesantren menyelenggarakan program Mubalighan. Melalui program ini, santri dilatih menyampaikan ceramah keagamaan di hadapan santri lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bekal agar santri mampu menyampaikan ilmu kepada masyarakat setelah kembali ke daerah masing-masing.

Program lainnya adalah Pembacaan, yaitu kegiatan membaca kitab kuning yang sedang dipelajari dengan bimbingan pembimbing. Kitab kuning menjadi salah satu rujukan utama dalam pembelajaran hukum Islam di pesantren.

Untuk mengukur capaian pembelajaran, pesantren juga melaksanakan program Ulangan. Kegiatan ini dilakukan setelah materi atau bab tertentu selesai dipelajari, sehingga guru dapat mengetahui perkembangan pemahaman santri.

Adapun Bahtsul Masail menjadi forum pengkajian masalah keagamaan yang membahas berbagai persoalan fiqih, tauhid, dan tasawuf. Program ini dilaksanakan secara rutin dengan pengawasan langsung dari dewan kiai atau mushohih.

Selain pendidikan keagamaan, Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri juga menyediakan layanan Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah atau PKPPS. Program ini ditujukan bagi santri yang ingin menyelesaikan pendidikan setara sekolah formal.

Dalam PKPPS, tersedia jenjang Wustha atau setingkat SMP dan Ulya atau setingkat SMA. Masa pendidikan yang ditempuh sama seperti pendidikan formal pada umumnya, yakni tiga tahun untuk Wustha dan tiga tahun untuk Ulya.

Tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, Pesantren Al-Musri juga dikenal kuat dalam menjaga silaturahmi, baik dengan masyarakat maupun alumni. Kegiatan silaturahmi tersebut digelar dalam berbagai agenda mingguan, bulanan, tahunan, hingga lima tahunan.

Silaturahmi mingguan dikemas dalam pengajian rutin setiap hari Senin. Sementara itu, kegiatan bulanan dilaksanakan melalui syahriahan muqimin dan muqimat yang diikuti para alumni dari berbagai daerah.

Untuk agenda tahunan, pesantren menggelar Haul Masyayikh Al-Musri sebagai salah satu kegiatan besar yang dihadiri santri, alumni, wali santri, dan masyarakat. Selain itu, setiap lima tahun sekali digelar Reuni Akbar Alumni Al-Musri.

Reuni Akbar Alumni Al-Musri menjadi salah satu agenda terbesar pesantren. Dalam setiap penyelenggaraannya, kegiatan ini dapat dihadiri lebih dari 5.000 alumni. Tujuannya adalah memperkuat tali silaturahmi antaralumni, muqimin, serta para guru Pondok Pesantren Al-Musri.

Di luar kegiatan pembelajaran, pesantren juga menyediakan berbagai ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat dan minat santri, baik dalam bidang religius maupun nonreligius.

Pesantren Miftahulhuda Al-Musri juga memiliki identitas kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Hal ini terlihat dari aktifnya berbagai badan otonom NU di lingkungan pesantren, seperti IPNU, IPPNU, Pencak Silat Pagar Nusa, Banser, dan organisasi lainnya.

Dengan sejarah panjang, sistem pendidikan salafiyah yang kuat, fasilitas yang terus berkembang, serta jaringan alumni yang luas, Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri terus berkomitmen mencetak generasi Qur’ani, berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi untuk umat.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri, masyarakat dapat mengunjungi website resmi pesantren di www.almusripusat.com serta mengikuti berbagai kanal media sosial resmi Al-Musri.

Penulis : Luthfi M. Fikri Al Zawad

Editor : Mulki Algifari

Follow WhatsApp Channel ikhbarnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi IIQ Jakarta Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia 2026, Harumkan Pendidikan Islam Indonesia
Mama KH. Ahmad Faqih Dianugerahi Penghargaan Harlah ke-28 PKB atas Dedikasi bagi Pesantren dan Perjuangan Bangsa
4 Contoh Pidato Upacara Pembukaan MPLS 2026, Lengkap dari Berbagai Gaya
Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak untuk Pesantren dan Madrasah
KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa, PBNU Dorong Tradisi Keilmuan dan Penulisan Kitab Terus Hidup
Masjid Sejuta Pemuda Siap Jadi Tuan Rumah Festival Hari Santri Nasional 2026, IDMI Jawa Barat Hadirkan Kolaborasi Nasional untuk Syiar Islam dan Pemberdayaan Santri
Kemenag Resmi Ganti Matsama Menjadi Matamuda Mulai Tahun Ajaran 2026/2027, Perundungan dan Perpeloncoan Dilarang
Milad ke-14 Al Falakiyah Bogor: Wisuda Perdana Amtsilati dan Khotmil Qur’an Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:20 WIB

Mahasiswi IIQ Jakarta Jadi Delegasi International Conference Santri Mendunia 2026, Harumkan Pendidikan Islam Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 - 04:20 WIB

4 Contoh Pidato Upacara Pembukaan MPLS 2026, Lengkap dari Berbagai Gaya

Minggu, 12 Juli 2026 - 18:50 WIB

Kemenag Luncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak untuk Pesantren dan Madrasah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:51 WIB

KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa, PBNU Dorong Tradisi Keilmuan dan Penulisan Kitab Terus Hidup

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:18 WIB

Masjid Sejuta Pemuda Siap Jadi Tuan Rumah Festival Hari Santri Nasional 2026, IDMI Jawa Barat Hadirkan Kolaborasi Nasional untuk Syiar Islam dan Pemberdayaan Santri

Berita Terbaru