Jakarta, IkhbarNusantara.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kerukunan masyarakat Indonesia menjadi salah satu kekuatan strategis bangsa dalam menghadapi dinamika global. Pengalaman panjang Indonesia dalam menjaga keberagaman dinilai memperkuat posisi Indonesia untuk membangun komunikasi yang damai, terbuka, dan konstruktif di tengah berbagai kepentingan antarnegara.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menjadi narasumber dalam Podcast Open The Door di Kantor Kementerian Agama yang ditayangkan pada Minggu (19/7/2026).
Menurut Menag, prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia memungkinkan bangsa ini menjalin hubungan baik dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam rivalitas blok tertentu. Dengan prinsip tersebut, Indonesia dapat mengambil peran sebagai jembatan dialog di tengah dinamika geopolitik internasional.
Baca Juga : Ziarah Wali Songo dan Idul Khotmi Tijaniyah, 140 Ikhwan Ponpes Miftahulhuda Al-Musri’ Perkuat Spiritualitas
“Kita selalu menempuh politik jalan tengah. Kita bisa dekat dan berkomunikasi dengan siapa pun karena politik bebas aktif sebagaimana dituntunkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,” ujar Menag saat menjadi narasumber Podcast Open The Door di Kantor Kementerian Agama yang tayang pada Minggu (19/7/2026).
Ia menegaskan, politik jalan tengah bukan berarti Indonesia memilih diam terhadap persoalan dunia. Indonesia tetap aktif menyampaikan pandangan, membangun komunikasi, dan ikut mendorong penyelesaian berbagai persoalan secara damai.
“Konflik itu tidak bisa diselesaikan dengan bensin, tetapi harus disiram dengan air kesejukan,” tuturnya.
Menag menilai, kemampuan masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman agama, suku, bahasa, dan budaya merupakan modal sosial yang sangat berharga. Nilai tersebut tumbuh dari falsafah Pancasila dan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, ia berharap generasi muda terus menjaga warisan kebangsaan tersebut.
“Saya berharap generasi kita sekarang ini dan generasi akan datang betul-betul mempertahankan prinsip dasar NKRI dengan falsafah Pancasila,” kata Menag.
Baca Juga : Ketika Amanah Menjadi Modal Terbesar Ekonomi Bangsa: Refleksi untuk Generasi Santri
Sebagai gambaran kondisi kerukunan nasional, Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 tercatat mencapai 77,89 atau berada pada kategori tinggi. Angka tersebut menunjukkan bahwa kerukunan menjadi modal penting bagi pembangunan bangsa sekaligus penguatan diplomasi Indonesia di tingkat internasional.
Menag juga mengulas budaya maritim Nusantara yang melahirkan karakter masyarakat Indonesia yang terbuka, adaptif, dan mudah membangun hubungan dengan berbagai pihak. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting dalam memperkuat komunikasi lintas budaya dan menjaga perdamaian.
Di akhir paparannya, Menag mengajak generasi muda meneladani semangat para pendiri bangsa yang mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan. Dengan modal kerukunan, politik bebas aktif, serta pengalaman hidup dalam keberagaman, Indonesia diyakini akan terus menjadi bangsa yang mampu membangun persaudaraan dan berkontribusi bagi perdamaian dunia.
Penulis : aljawadd_
Editor : Fikri
























Komentar