Penulis Sejarah Nahdlatul Ulama (NU), Abdul Mun’im DZ, menilai bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) bukan hanya dikenal lewat kisah-kisah populer dan anekdot yang berkembang di masyarakat, tetapi juga merupakan tokoh dengan gagasan politik yang mendalam, matang, dan terencana.
“Selama ini Kiai Wahab sering dipahami hanya lewat cerita rakyat dan anekdot. Padahal, di balik anekdot itu tersimpan teori politik yang matang,” ujar Abdul Mun’im dalam acara bedah buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI di Gedung Kementerian Haji, Jalan Thamrin, Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga BIOGRAFI SINGKAT ALMARHUM MAMA SYAIKHUNA KH. AHMAD FAQIH (Pendiri Pontren Miftahulhuda Al-Musri’)
Menurutnya, kebesaran Mbah Wahab tidak lahir dari privilese atau kemudahan tertentu, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang dibangun melalui perencanaan sistematis.
“Kebesaran Kiai Wahab bukan karena privilege, tetapi by plan, struggle, dan mapping,” tegasnya.
Abdul Mun’im menilai ukuran paling objektif untuk melihat kiprah politik Mbah Wahab adalah melalui catatan Pemilihan Umum (Pemilu). Dalam konteks tersebut, peran politik Kiai Wahab dinilai tidak kalah dibanding tokoh-tokoh besar bangsa seperti Soekarno maupun Tan Malaka.
Baca Juga Eddy Soeparno Sebut Sumur Minyak Indonesia Menua, PAN Setuju Lifting Migas Perlu Eksplorasi Baru
“Kalau kita lihat, Kiai Wahab tidak kalah, khususnya dibandingkan Tan Malaka,” ungkapnya.
Ia kemudian mencontohkan sejumlah tokoh besar yang partainya justru mengalami kemunduran. Partai yang dipimpin Tuan Syahrir dibubarkan pada 1960, sementara partai Moh. Natsir juga bernasib serupa pada 1950. Bahkan PNI yang didirikan Bung Karno pada akhirnya merosot hingga hanya meraih 6,7 persen suara.
Sebaliknya, Kiai Wahab bersama Partai NU justru menunjukkan capaian signifikan. Pada Pemilu pertama, Partai NU langsung menempati posisi ketiga. Bahkan pada Pemilu 1971, ketika banyak partai lain melemah, NU masih mampu meraih 18,7 persen suara.
“Dalam pemilu pertama, Partai NU langsung menempati posisi ketiga. Bahkan pada Pemilu 1971, ketika banyak partai lain melemah, NU masih meraih 18,7 persen suara,” jelas Abdul Mun’im.
Ia menilai capaian tersebut merupakan puncak karier politik Mbah Wahab, meskipun tokoh NU itu sempat mengalami pencekalan dan intimidasi politik pada masa transisi menuju Orde Baru, khususnya di Bandung.
“Ini adalah puncak karier Mbah Wahab. Semua partai lain hancur, tapi NU tetap bertahan. Bukan karena tidak pernah dijegal, tetapi karena Orde Baru gagal menjegal Kiai Wahab di Bandung,” tandasnya.
Baca Juga Haul ke-26 KH Ahmad Faqih di Cianjur, Ribuan Jamaah Padati Pesantren Al-Musri’













